Kadang Dia Tersenyum Dalam Tangis, Kadang Dia Menangis Di Dalam Senyuman

Dulurs…

Sebelum kita mambaca apa isi maksud dan tujuan dari artikel ini, marilah pertama-tama kita menyanyikan dulu dengan lirih sepenuh hati sebuah tembang kebangsaan ‘mereka’ untuk mengawali tercetusnya artikel ini. Yuk mari..

image

^ rupane dargombez


Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut mencintanya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya

Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

Hooo apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Hooo apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

Hooo apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Hooo apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

Yah begitulah apa yang sedang aku pikirkan, aku bukan orang suci, jadi aku ga mau dan akan pernah ada pikiran untuk memberi predikat “suci atau tidaknya seseorang”. Artikel ini hadir guna mencurahkan apa isi pikiranku, mencoba merasakan dan memikirkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

Kadang kala meskipun sepintas, pernah sesekali di kala senggangku, aku mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka rasakan. Mereka adalah wanita, wanita yang telah memilih jalan hidupnya.

Manusia mana sih yang ingin menjalani hidupnya dengan cara salah dan keliru? Gak ada!! Semua manusia entah pria ataupun wanita pasti menginginkan jalan yang mulus, yang indah, yang mudah ketika menjalani hidup. Namun kehendak berkata lain.

Sebut saja mereka dengan sebutan “bidadari”, karena mereka tampak indah di mataku, meskipun begitu namun mereka tetap wanita yang berhak memiliki pelabuhan hidup.

Tidak perlu aku tau dan tidak ingin aku tau, bagaimana awal kisah mereka memulai ini semua sebagai suatu sarana untuk memperoleh penghasilan untuk membiayai hidupnya atau mungkin juga biaya anggota keluarganya.

Ketika aku masuk di suatu tempat hiburan malam, kala itu masih pukul 23.00, belum terlalu ramai pengunjung untuk sebuah tempat hiburan malam. Aku memandangi sekitar, melihat mereka masih duduk melingkari sebuah meja menunggui tamu yang akan memakai jasa mereka. Apa sih jasa yang mereka jual sebenarnya?? Sepertinya bukan hanya jasa saja, mereka juga menjajakan barang. Barang seperti apa ya??

Waktu semakin malam itu sebagai tanda aktivitas mereka akan dimulai. Satu per satu silih berganti tamu pria yang datang, memilih bidadari mana yang para tamu inginkan. Menuju sebuah table dengan kursi maupun sofa. Apa sih yang mereka lakukan? Agak gelap memang namun sepintas dengan samar-samar aku melihatnya.

Astagaaa… dengan pakaian yang minim dan menggoda, meskipun tidak ada pakaian yang dia buka, namun tak sedikitpun bagian tubuh mereka yang tidak terjamah.

Sebelum jauh melangkah, aku jelasin dulu. Aku menggunakan kata “mereka” untuk para wanita dan kata “kami” untuk para lelaki.

Apakah mereka kenal kami?? Mungkin semakin sering kami datang mulai banyak dari kita yang saling mengenal. Tapi itu hanya sebagian kecil, sebagian besar sih ga perlu kenal.

Ga perlu lah aku gambarkan apa saja yang mereka lakukan, mereka cuma melakukan, yaitu menemani tamu yang butuh lalu menyenangkannya.

Pernah aku tak sengaja membaca sebuah status di media sosial salah satu seorang bidadari yang mulai aku kenal. Cuma 3 kata aja sih, tapi astagaaa bikin hatiku bergetar. Kata-katanya cuma bertuliskan, mama, aku lelah. Jleb!! Hati siapa yang ga terenyuh membaca status yang hanya berisikan 3 kata itu.

Ada lagi kalimat dengan 2 kata yang sebenarnya mendorongku untuk mengomentarinya, tapi kayaknya ngga deh, biar aku komentari dalam hati saja. Pingin nangis, oh astagaaa menangislah cantik, menangislah keluarkan semua hal yang membelenggu hatimu, menangislah sampai kau lelah sampai tak ada tenaga lagi untuk matamu menetes air mata. Aku tau itu perih, ini bukan jalan yang kau mau, bukan jalan yang kau inginkan.

Ketika kami telah puas ‘menghabisimu’, kenapa kau yang berucap “makasih yaa”, lho untuk apa kamu berterima kasih, seharusnya kami yang berterima kasih, bukan kamu.

Ketika aku memandangi foto di instagrammu, kau tersenyum tampak begitu cantik dan terlihat tenang seakan ga ada sesuatu yang terjadi. Kau menjalani hidupmu sebagaimana seseorang menjalani kehidupan normalnya, namun dibalik itu siapa yang tau, ternyata kau adalah mereka.

Jangan kau sesali keputusanmu. Semoga saja kelak kan kau dapati hati yang tulus mencintaimu. Karena jalanmu terkadang itu bukan inginmu.

Keep roll ya cantik..

NB: ga ada foto wanitanya, ga etis ntar hehe…

Posted from WordPress for Asus Zenfone 2 Laser 4G/LTE

Iklan

13 tanggapan untuk “Kadang Dia Tersenyum Dalam Tangis, Kadang Dia Menangis Di Dalam Senyuman”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s